Jumat, 06 Juni 2014

Tugas Pak Sunaryo



RANGKUMAN
Teori dan Aplikasi Evaluasi program
Bimbingan Konseling
Aip Badrujaman,M.Pd



 







Oleh:
Stephi nadia
Nim : 11.21.13472


UNIVERSITAS MUHAMMADYAH PALANGKARAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI S-1 BIMBINGAN KONSELING
TAHUN 2014



BAB 1
PERMASALAHAN SEPUTAR EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
  
Pelaksanaan bimbingan dan konseling di ndonesia telah berjalan selama lebih dari tiga puluh tahun. Meskipun demikian, masalah-masalah yang terjadi dalam dunia bimbingan dan konseling sekarang,tidak jauh berbeda dengan masalah yang terjadi pada masa yang lalu. Permasalahan motivasi belajar siswa, keterlambatan,serta absensi masih banyak dialami siswa. Pada sisi yang lain,guru BK mengalami kesulitan menyelenggarakan berbagai bimbingan dan konseling. Seringkali program m bimbingan dan konseling yang diselenggarakan tidak diperdulikan siswa, bahkan tidak diminati siswa.
   Salah satu factor yang menyebabkan permasalahan di atas terjadi adalah karena ketiadaan evaluasi yang dilakukan oleh guru BK. Ketiadaan evaluasi membuat terjadinya pengulangan berbagai program bimbingan dan konseling yang tidak menarik, serta tidak dibutuhkan oleh siswa.
   Prof. buchori (2004) mengemukakan bahwa tenaga guru BK belum mendaatkan tempat yang layak di kebanyakan sekolah. Bahkan di beberapa sekolah, guru BK dijauhi siswanya karena dipandang sebagai “polisi sekolah”. Tidak hanya siswa, guru mata pelajaran juga seringkali memiliki persepsi yang kurang baik pada guru BK dan program Bimbingan dan konseling itu sendiri. Bahkan tidak jarang program Bimbingan dan konseling hanya merupakan komponen lengkap disekolah yang memang harus ada sebagai persyaratan administrasi.
   Kondisi ini membuat guru BK melaksanakan program bimbingan dan konseling secara incidental, dan kurang terencana. Akibatnya proses bimbingan menjadi tidak menarik  dan tidak menyentuh esensi (kebutuhan) dari siswa. Bahkan tidak jarang siswa akkhirnya tidak memperdulikan kegiatan bimbingan yang diselenggarakan oleh guru BK. Kondisi ini akhirnya membuat tujuan yang telah ditetapkan tidak dapat dicapai melalui kegiatan bimbingan tersebut. Kondisi ini pada akhirnya berimplikasi pada minimnya siswa yang dapat mencapai tugas perkembangannya sebagai akibat program bimbingan.
   Untuk mengatasi masalah, guru Bk harus berani untuk melakukan evaluasi terhadap program bimbingan dan konseling yang diselenggarakan. Evaluasi dilakukan untuk menemukan kelemahan program serta selanjutnya memperbaiki dan mengembangkannya. Apabila guru Bk dapat menunjukkan bukti program bimbingan dan konseling itu dibutuhkan dan harus ada, maka Kepala Sekolah akan mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada guru BK. Bukt yang diberikan bukanlah bukti yang subjektif guru BK yang dapat saja kemudian dibantah oleh guru lain atau kepala sekolah. Bukti yang harus ditunjukkan haruslah bukti yang berasal dari sebuah proses evaluasi yang dapat dipertangungjawabkan.
   Purwanto dalam Lubis 920020 mengungkapkan bahwa dengan evaluasi diperoleh informasi mengenai proses pembelajaran, meliputi :
1.       Kemajuan dan perkembangan siswa setelah mengikuti kegiatan belajar-mengajar selama jangka waktu tertentu
2.       Keberhasilan suatu metode pengajaran oleh guru
3.       Kekuarangan/keburukan dari hasil evaluasi yang selanjutnya dapat dijadikan pedoman/bahan informasi yang akurat untuk mengambil keputusan, baik oleh guru,Kepala sekolah,maupun pihak yang terkait (Lubis,2002:5).

Evaluasi merupakan hal yang penting, bukan hanya fungsinya sebagai alat untuk membuat perbaikan,akan tetapi karena evaluasi juga merupakan ukuran akuntabilitas terhadap program, atau layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa.
  
Bimbingan konseling salah satu layanan yang disediakan sekolah untuk melayani siswa merupakan bagian yang tidak dapat terpisah dari program pendidikan yang diselenggarakan disekolah.
  
Tugas pokok guru Bk ialah menyusun pogram bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan,dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya.
  
Rendahnya presentase guru Bk yang melakukan evaluasi terhadap program bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya,tentunya dapat memiliki dampak yang negative bagi program bimbingan dan konseling itu sendiri. Dampak negative tersebut dapat berupa ketiadaan informasi sebagai umpan balik yang seharusnya menjadi petunjukberkenaan dengan kekuatan dan kelemahan program yang diselenggarakan. Selain itu guru BK tidak dapat mengetahui secara pasti apakah tujuan program yang telah ditetapkan sudah tercapai. Ketiadaan evaluasi dapat berdampak pula guru Bk megulangi program BK yang sesungguhnya tidak menjadi kebutuhan siswa,serta tidak bersentuhan dengan permasalahan yang ada pada siswa. Permasalahan tersebut tentunya dapat menciptakan kondisi dimana program bimbingan dan konseling diselenggarakan akan tetapi permasalahan siswa tetap tinggi.





BAB 2
KONSEP DASAR EVALUASI

   Dalam literature kajian bimbingan dan konseling,didapati bahwa penggunaan istilah penilaian dan evaluasi masih digunakan. Keduanya dipergunakan untuk menilai efektivitas program bimbingan dan konseling sehingga bisa dijadikan bahan dasar dalam memperbaiki program.
   Mehrens dan Lehman menyatakan penilaian sebagai suatu tindakan untuk menentukan nilai sesuatu.  Sementara itu, Raka joni mengemukakan definisi mengenai penilaian sebagai proses dimana kita mempertimbangkan sesuatu barang atau gejala dengan patokan-patokan tertentu. Definisi ini menjelaskan bahwa penilaian adalah proses mempertimbangkan yang berarti terdapat kegiatan membandingkan antara sesuatu dengan patokan tertentu. Definisi yang dikemukakan oleh Raka Joni sejalan dengan definisi penilaian yang disampaikan oleh Nana Sudjana yang mengemukakan penilaian sebagai proses memberikan atau menentukan nilai kepada suatu objek tertentu berdasarkan kriteria tertentu. Definisi yang disampaikan Nana Sudjana memiliki isi yang sama akan tetapi Nana sudjana menggunakan istilah yang berbeda. Nana sudjana menggunakan stilah criteria sebagai padanan kata patokan yang disampaikan oleh Raka Joni.
   Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh ketiga ahli di atas, maka beberapa hal penting dapat disimpulkan dari istilah penilaian :
1.       Penilaian adalah suatu proses pemberian nilai. Hal ini berarti bahwa dalam penilaian terdapat proses judgement, pada konteks inilah sesuangguhnya penilaian berbeda dengan pengukuran yang hanya menggambarkan sebuah fakta.
2.       Proses pemberian nilai didasarkan pada kritera tertentu.
Sementara itu, istilah evaluasi juga banyak digunakan untuk merujuk kepada objek yang sama.
   Groundlund (1995) mengemukakan evaluasi sebagai proses sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai siswa.
   Sumadi Suryabrata berpendapat bahwa istilah evaluasi menekankan pada pada penggunaan informasi yang diperoleh dengan pengukuran maupun dengan cara lain untuk menentukan pendapat dan membuat keputusan-keputusan pendidikan.
   Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh ahli, maka jelaslah evaluasi memiliki beberapa karakteristik yang khas.
1.       Evaluasi adalah proses dimana didalamnya terdapat prses pengumpulan informasi. Informasi ini dapat berupa informasi yang bersifat kuantitatif dan bersifat kualitatif yang didapat melalui proses pengukuran.
2.       Dalam evaluasi terdapat proses analisis dan interpetasi informasi, artinya didalam evaluasi terdapat proses membandingkan fakta dengan patokan tertentu.
3.       Inilah karakteristik yang membedakannya dengan penilaian adalah bahwa evaluasi merupakan proses yang menjadi dasar penentuan suatu pengambilan keputusan.

Evaluasi program bimbingan dan konseling merupakan bidang kajian yang didalamnya terdapat dua bidang ilmu. Ilmu mengenai evaluasi dan juga ilmu megenai bimbingan dan konseling.
Evaluasi merupakan studi yang dapat dikatakan muda, karena datang lebih akhir daripada psikologi, ataupun bimbingan konseling, akan tetapi perkembangannya sangat pesat sekitar tahun tujuh puluhan.
Stufflebeam mencatat pada tahun 1970-an telah ada sekitar lima puluh model evaluasi (Stuflebeam & Shinkfield, 1985:49). Khusus dalam bidang bimbingan dan konseling, model-model evaluasi yang sering digunakan untuk mengevaluasi program bimbingan dan konseling adalah model planning,programming,budgeting system (PPBS) yang memberikan tekanannya pada menetapkan tuuan yang khusus,objektif, dan criteria dalam evaluasi. Criteria yang digunakan dalam model ini adalah referensi criteria bukan referensi norma. Kemudian ada pula model CIPP yang memfokuskan pada kekuatan dan kelemahan desain program.
Evaluasi program bimbingan dan konseling sebagai proses pemberian penilaian terhadap kebehargaan dan keberhasilan program  bimbingan dan konseling dengan melalui pengumpulan data,pengolahan data, serta analisis data yang akan dijadikan dasar untuk membuat keputusan.
Tujuan evaluasi program bimbingan dan konseling :
1.       Evaluasi program bimbingan dan konseling bertujuan untuk memperbaiki praktik penyelenggaraan program bimbingan dan konseling
2.       Evaluasi merupakan alat untuk meningkatkan akuntabilitas program bimbingan dan konseling dimata stakeholder,seperti guru, kepala sekolah, orangtua, terutama siswa.

Prinsip dasar evaluasi Program bimbingan dan konseling :
1.       Evaluasi yang efektif membutuhkan pengenalan atas tuuan-tujuan program
2.       Evaluasi yang efektif membutuhkan criteria pengukura yang valid
3.       Evaluasi yang efektif tergantung pada pelaksanaan pengukuran yang valid terhadap criteria
4.       Program evaluasi harus melibatkan semua yang berpengaruh
5.       Evaluasi yang bermakna membutuhkan umpan balik
6.       Evaluasi arus direncanakan, dan terus menerus sebagai sebuah proses
7.       Evaluasi menekankan pada kepositifan

Kriteria evaluasi program Bimbingan Konseling :
1.       Menunakan pencapaian melalui presentase
2.       Membandingkan pencapaian siswa yang mengikuti program dan tidak mengikuti program
3.       Menanyakannya dengan siswa,orangtua, atau guru
4.       Dengan membandingkan skor pre-test dan post-test

Factor yang mempengaruhi evaluasi program bimbingan konseling adalah tafsiran tentang konseling sebagai kegiatan professional engalaman, dan mutu kerjanya, serta bantuan dan kerjasama diantara semua anggota staf sekolah,terutama guru.
Winkel dan Hastuti (2006:580) mengemukakan bahwa factor yang mempengaruhi hasil guna bimbingan adalah kedudukan layanan bimbingan dan fasilitas yang ada, serta sikap anggota staf sekolah terhadap layanan bimbingan.

Myrick(2003) mengemukakan ada 5 alasan mengapa guru BK tidak melakukan evaluasi program bimbingan dan konseling, meliputi :
1.       Guru BK tidak memiliki waktu
2.       Guru Bk tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan
3.       Adanya ketakutan guru BK terhadap akuntabilitas
4.       Perasaan nyaman guru BK dengan apa yang ada
5.       Persepsi guru Bk bahwa hasil sulit diukur.












BAB 3
OBJEK EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING


Sejarah perkembangan program Bk di Indonesia pada tahun 1980-an. Perkembangan itu ditandai dengan dibukanya program studi atau jurusan bimbingan konseling di Lembaga Tenaga Kependidikan di Indonesia.
  
Pada era sekarang ini, bimbingan konseling di Indonesia mengacu pada paradigma baru, sebagaimana paradigm pendidikan secara keseluruhan, yaitu mengacu atau berbasis kompetensi.

Bentuk  bimbingan menunjuk pada Jumlah orang yang diberi layanan bimbingan. Bilamana siswa yang dilayani hanya satu orang, maka digunakan istilah bimbingan individual atau imbingan perseorangan. Bilamana siswa yang dilayani lebih dari satu orang, maka digunakan istilah bimbingan kelompok, baik kelompok kecil, agak besar, dan besar.

   Sifat bimbingan menunjuk pada suatu tujuan yang ingin dicapai dalam pelayanan bimbingan, apakah itu mendampingi siswa dalam perkembangan yang sedang berjalan agar berlangsung seoptimal mungkin, atau apakah membantu siswa memperbaiki proses perkembangan yang telah mengalami salah jalur agar kemudian berlangsung lebih baik, atau apakah bimbingan bertujuan membantu siswa dalam membekali agar lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

   Ragam bimbingan menunjuk pada bidang kehidupan tertentu atau aspek perkembangan tertentu yang menjadi focus perhatian dalam pelayanan bimbingan.
Ragam bimbingan dapat dibedaka menjadi 3 bagian :
1.       Bimbingan akademik
2.       Bimbingan karier
3.       Bimbingan pribadi-sosial

Program bimbinga adalah layanan bimbi ngan yang diberikan dalam kelompok. Gazda dalam prayitno (2004) mengemukakan bawa bimbingan kelompok disekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat (Prayitno,2004:195).  Gazda juga menyebutkan bahwa bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberikan informasi yang bersifat personal,vokasional,dan sosial.

   Brewer dalam Winkel & Hastuti (2006) berpandangan bahwa tugas pokok semua tenaga pendidik adalah mempersiapkan siswa untuk mengatur berbagai bidang kehidupan sedemikian rupa sehingga bermakna dan memberikan kepuasan,seperti idang kesehatan, bidang kehidupan keluarga,bidang pekerjaan,bidang rekreasi,bidang pendalaman pengetahuan,dan bidang kehidupan bermasyarakat.

   Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat diambil beberapa pokok pikiran mengenai bimbingan kelompok, meliputi :
v  Bimbingan kelompok merupakan kegiatan kelompok yang diberikan untuk siswa
v  Kegiatan bimbingan kelompok meliputi bidang akademik,pribadi-sosial,serta karier
v  Tujuan bimbingan kelompok adalah untuk membantu siswa menyusun rencana dan keputusan yang tepat baik dalam hal akademik,pribadi-sosial,serta karier
v  Bimbingan kelompok merupakan tugas pokok guru BK yang ada di sekolah.

Tugas utama dalam pengembangan kurikulum bimbingan adalah untuk mengorganisasikan dan memetakan kompetensi siswa dimana mereka mengikuti wilayah dan urutan secara teoritik.

Ada 3 tingkat perkembangan :
1.       Perceptualization
2.       Conceptualization
3.       Generalization

Konseling merupakan program yang sangat penting dalam program bimbingan dan konseling. Program konseling merupakan program yang berusaha merespons secara aktif berbagai permasalahan disekolah.

   Tujuan dari program ini adalah untuk bekerja dengan siswa yang sedang memiliki permasalahan atau berpotensi memiliki permasalahan atau berpotensi memiliki permasalahan yang dapat mengganggu kesehatan pribadi-sosialnya,akademiknya,serta kariernya,dan perkembangan pendidikannya. Isu yang spesipik yang mungkin dihadapi siswa adalah pilihan pendidikan,karier,kehilangan anggota keluarga,hubungan,kehadiran,putus sekolah, stress,pelecehan,bunuh diri,dan lain sebagainya.

   Definisi konseling berdasarkan The New Grollier Webster International Dictionary (1971), kata Konseling merupakan ahli bahsa dari bahasa inggris Counseling yang berarti memberi saran,informasi,opini,dialog,atau pertimbangan yang diberikan oleh seseorang kepada oranglain dalam rangka membuat keputusan atau tindakan yang akan datang.

   Menurut Shertzer dan Stone (Syuhada,1988), Konseling adalah proses interaksi yang memberikan fasilitas atau kemudahan-kemudahan untuk pemahaman yang bermakna terhadap diri dan lingkungan,serta menghasilkan kemantapan dan atau kejernihan tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku dimasa datang.

   Cirri-ciri konseling :
1.       Konseling merupakan suatu proses yang terjadi oleh adanya hubungan antara konselor dengan klien yang dengan sengaja akan mencapai suatu tujuan yang bermakna bagi klien.
2.       Konseling merupakan suatu bantuan agar klien lebih mampu memahami diri serta lingkungannya guna merencanakan masa depannya yang lebih baik.
3.       Dalam proses konseling, konselor memberikan fasilitas yang bernilai psikologis bagi klien yang digali dari teori-teori,metode dan teknik psikologi kepribadian dan ilmu-ilmu sosial lainnya untuk memungkinkan klien melakukan perubahan perilaku dari yang kurang positif kepada yang lebih positif. Hasil yang ingin di capai oleh konselor dank lien ialah perwujudan atau kejelasan nilai-nilai dan tujuan-tujuan perilaku klien dimasa datang,yaitu perilaku yang dapat membahagiakan/menyejahterakan diri serta masyarakatnya (Syuhada,1988)

Fungsi Layanan Konseling adalah seagai fasilitator,sarana yang memberikan kemudahan-kemudahan baik terhadap terbimbing maupun sekolah atau perguruan tinggi/lembaga/masyarakat. Secara khusus konseling memiliki fungsi Penyembuhan (curative),bagi ora ng yang menderita gangguan karena tidak mampu memecahkan masalah-masalah baik maslah klinis maupun nonklinis,psikoterapi,atau layanan rujukan yang tepat (kepada ahli yang sesuai dengan kebutuhan penderita) (Syuhada,1988:9-11).

Tujuan konseling  :
1.       Menyediakan fasilitas untuk perubahan tingkah laku
2.       Meningkatkan keterampilan untuk menghadapii sesuatu
3.       Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan
4.       Meningkatkan hubungan antar perorangan(interpersonal)
5.       Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah pribadi yang mandiri
6.       Mengenal dan menerima diri dan lingkungan
7.       Mengambil keputusan sendiri tentang berbagai hal
8.       Bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannya
9.       Mengarahkan diri sendiri
10.   Mengaktualisasikan diri


Langkah-langkah pelaksanaan Konseling secara umum
a.       Pendahuluan
1)      Menegakkan Rapport yang bertujuan membuat klien aman dan nyaman
2)      Melengkapi data yang bertujuan merumuskan masalah
3)      Mengumpulkan data yang bertujuan untuk mencari alternative pemecahan
b.      Bagian inti
1)      Mencari alternative pemecahan
2)      Memilih alternative pemecahan
3)      Merencanakan pemecahan
4)      Melaksanakan pemecahan
c.       Penutup
1)      Menyimpulkan
2)      Membuat perjanjian berikutnya


                                                          

















                                                           BAB 4
MODEL-MODEL EVALUASI YANG DAPAT DIGUNAKAN DALAM EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING

Tyler adalah seorang bapak evaluasi,karena pada tahun 1950 telah memberikan sumbangannya dalam memberikan definisi  pada evaluasi. Tyler menganggap evaluasi merupakan proses membandingkan antara tujuan yang ditetapkan dengan tujuan yang dapat dicapai.
   Langkah-langkah evaluasi :
1.       Menentukan tujuan seluas-luasnya atau sasaran-sasaran
2.       Mengklasifikasikan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran
3.       Menegaskan sasaran dalam benuk perilaku
4.       Menemukan situasi-situasi dalam pencapaina tujuan yang dapat dilihat
5.       Mengembangkan atau memilih teknik pengukuran
6.       Mengumpulkan hasil data
7.       Membandingkan hasil data dengan perilaku berdasarkan tujuan

Kekurangan dari evaluasi,meliputi :
1.       Mengabaikan aspek perencanaan dan proses pada proses pembelajaran
2.       Banyak kekurangan standar penilaian yang penting un tuk di observasit
3.       Ketidak sesuaian atara tingkat tujuan dan pelaksanaannya
4.       Pengabaian nilai tujuan pendekatan evaluasi itu sendiri
5.       Mengabaikan alternative-alternatif penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan program
6.       Melalaikan konteks yang memiliki wewenang evaluasi
7.       Mengabaikan hasil penting lainnya yang ditutupi oleh tujuan (hasil yang sengaja didapatkan dari kegiatan)
8.       Mengabaikan fakta-fakta dari nilai program yang tidak dapat digambarkan dengan tujuan itu sendiri.

Evaluasi formatif didefinisi oleh Scriven (1991) sebagai suatu evaluasi yang biasanya dilakukan ketika suatu produk atau program tertentu sedang dikembangkan dan biasanya dilakukan lebih dari sekali dengan tujuan untuk melakukan perbaikan.

Teknk evaluasi Formatif menurut martin Tessmer (1996) dapat dilakukan sebagai berikut :
1.       Review ahli yaitu evaluasi dimana ahli mengkaji ulang program layanan atau tanpa kehadiran evaluator. Ahli ini bisa ahli materi, ahli teknis, perancang, atau instruktur.
2.       Evaluasi orang per orang, yatu wawancara yang dilakukan secara perorangan oleh evaluator terhadap beberapa siswa dimana secara satu persatu siswa diminta untuk memberikan komentarnya.
3.       Evaluasi kelompok keci, yaitu evaluasi dimana evaluator meguji coba suatu program layanan pada suatu kelompok siswa dan mencatat performance dan komentar-komentarnya.
4.       Uji lapangan, yaitu evaluasi diman aevaluatornya megobservasi program layanan yang diuji cobakan kepada sekelompok siswa tertentu dalam suatu situasi nyata.


Evaluasi sumatif merupakan evaluasi yang menilai hasil program atau akibatnya. Evaluasi sumatif adalah model pelaksanaan evaluasi yang dilakukan setelah berakhirnya kegiatan belajar-mengajar. Pola evaluasi ini dilakukan kalau guru bermaksud untuk mengetahui tahap perkembangan terakhir tingkat pengetahuan atau penguasaan materi yang telah dicapai oleh siswa.

   Keuntungan Evaluasi sumatif :
1.       Mereka isa, ika dirancang dengan tepat, menyediakan bukti ntuk sebuah hubungan sebab-akibat
2.       Menilai efek jangka pajang
3.       Menyediakan data mengenai dampak program.

Evaluasi Responsif adalah sebuah pendekatan evaluasi  pendidikan dan program lainnya. Dibandingkan dengan pendekatan lainnya,evaluasi responsive lebih berorientasi pada aktivitas,keunikan dan keragaman sosial dari program. Keistimewaan utama dari pendekatan ini adalah kemampuan reaksi terhadap isu kunci atau masalah yang dikenal masyarakat dilapangan. Tujuan evaluasi dirancang secara perlahan dan terus berkembang selama proses pengumpulan data berlangsung

   Evaluasi responsive ditandai oleh cirri-ciri penelitian kualitatif naturalistic. Data lebih banyak dikumpulkan menggunakan teknik wawancara dan observasi daripada tes dan angket. Bentuk laporan ialah studi kasus atau gambaran yang deskriptif. Focus utama evaluasi respontif adalah menunjukkan perhatian dan isu peserta.

Terdapat empat komponen dalam Evaluasi CIPP :
1.       Evaluasi Konteks
2.       Evaluasi input
3.       Evaluasi proses
4.       Evaluasi produk


BAB 5
EVALUASI PERENCANAAN PROGRAM BIMBINGAN


Evaluasi perencanaan program bimbingan merupakan evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui apakah perencanaan yang dibuat sudah baik atau belum. Perencanaan program bimbingan dan konseling terdapat dalam kurikulum bimbingan (guru BK sering menyebutnya silabus BK).

   Orientasi utama dari evaluasi tujuan program bimbingan adalah untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan peserta didik, dan juga untuk menyediakan arahan untuk perbaikan. Stufflebeam mengemukakan bahwa objektivitas utama dari tipe ini adalah untuk menelaah status objek secara keseluruhan, untuk mengidentifikasikan kekurangan, untuk mengidentifikasikan kekuatan yang dimiliki yang dapat digunakan untuk memperbaiki kekurangan,untuk mendiagnosis masalah sehingga dapat ditemukan solusi yang dapat memperbaikinya, dan secara umum untuk memberikan gambaran karakteristik lingkungan/setting program (Stufflebeam & Sinkfield, 1985:169).

   Evaluasi program bimbingan pada aspek tujuan ini tidak dilakukan pada setiap semester. Hal ini disebakan karena kompetensi siswa tentunya tidak berubah setiap semester atau bahkan setiap tahun. Hal ini sesuai dengan pendapat Gysbers (2006) yang menyatakan bahwa evaluasi pada kurikulum bimbingan dapat dilakukan tiga atau lima tahun sekali.

Prosedur  pelaksanaan Evaluasi Tujuan :
a)      Menentukan Tujuan Evaluasi
b)      Menentukan Kriteria Evaluasi
c)       Memilih desain evaluasi
d)      Menyusun Tabel perencanaan Evaluasi
e)      Menentukan instrument evaluasi
f)       Menentukan Teknik analisis data

Kegiatan akhir dalam kegiatan evaluasi yang dilakukan adalah membuat laporan asil evaluasi. Setiap laporan evaluasi perencanaan hendaknya dimulai dengan deskripsi data. Setelah data dipaparkan, maka selanjutnya adalah menulis hasil analisi data evaluasi.

Bagian evaluasi tujuan :
1.       Deskripsi data
a)      Tugas perkembangan siswa
Berdasarkan pencapaian siswa dalam tugas perkembangan,seharusnya program bimbingan lebih diarahkan pada tugas perkembangan :
1)      Mempersiapkan karier ekonomi
2)      Mempersiapkan tingkah laku sosial yang bertanggungjawab
3)      Mencapai system nilai dan etika ebagai pedoman tingkah lakunya
4)      Serta mempersiapkan pernikahan dan kehidupan berkeluarga
b)      Permasalahan siswa
c)       Tujuan program Bimbingan sekolah antah Berantah
Tujuan Program Bimbingan semester ganjil
1)      Siswa mampu menghayati makna belajar sebagai pelajar untuk mencapai keberhasilan belajar yang mendasari pencapaian masa depan yang diharapkan
2)      Siswa mampu menhayati prinsip dan gaya belajar sebagai pelajar untuk mencapai keberhasilan belajar yang mendasari pencapaian masa depan yang diharapkan
3)      Siswa mampu menghargai dan memanfaatkan waktu dengan benar (efektif dan produktif)
4)      Siswa mampu elihat bakat,kemampuan, dan prestasi diri yang perlu disyukuri dan dikembangkan untuk meningkatkan mutu kehidupannya.
5)      Siswa mampu hidup bersama oranglain yang mendasarkan diri pada etika pergaulan
6)      Siswa mampu bergaul secara efektif sebagai remaja sehingga mendapatkan manfaat bagi perkembangan siswa
7)      Siswa mampu melaksanakan kepemimpinan remaja ya ng efektif dan efisien sesuai karakter seorang pemimpin handal.
                Tujuan Program bimbingan Semester Genap
1)      Siswa mampu bersikap dan bertingkahlaku, dan mengembangkan diri sesuai dengan dimensi kecerdasan yang dimilikinya sehingga berhasil dalam kehidupannya
2)      Siswa mampu mengenal,menganilisis, dan terampil mengatasi masalah yang dialami pada rentang tahapan hidupnyadimasa remaja sehingga menjadi remaja yang efektif
3)      Siswa mampu berpikir dan bersikap positif dalam pergaulan hidup sehari-hari disekolah,keluarga,dan masyarakat pada umumnya
4)      Siswa mampu memilih bentuk rekreasi yang paling efektif sehingga memperoleh manfaat bagi perkembangan sosialisasi,kesehatan jiwa dan raganya,serta bermanfaat bagi masyarakat disekitarnya.
5)      Siswa menyadari perlunya sikap anti korupsi dalam bentuk apapun dan menjalankan sikap itu dalam kehidupan sehai-hari siswa mampu mengupayakan diri menjadi remaja yang mandiri
2.       Analisis Hasil Evaluasi
Tujuan program bimbingan harus mengarah ada beberapa hal berikut :
1)      Persiapan karier ekonomi
2)      Mempersiapkan tingkahlaku sosial siswa yang bertanggungjawab
3)      Mencapai system nilai dan etika sebagai pedoman tingkah lakunya
4)      Mempersiapkan pernikahan dan kehidupan berkeluarga
5)      Membantu siswa mengatasi kesulitan belajar
6)      Membantu mengarahkan pengentasan maslah gangguan makan
7)      Membantu mengarahkan kehidupan yang sehat
8)      Membantu mengarahkan siswa untuk mengatasi keinginan bunuh diri
9)      Membantu siswa menghindarkan dan menghilangkan mengkonsumsi minuman keras
10)   Membantu siswa menhindarkan dan menghilangkan perilaku merokok
11)   Membantu siswa menghindarkan dan menghilangkan pergaulan bebas
12)   Membantu siswa menghindarkan dan menghilangkan penyalahgunaa obat terlarang dan narkotika
13)   Membantu siswa menghindarkan dan menghilangkan melakukan hubungan seksual

Ada Sembilan tujuan yang dihasilkan melalui Evaluasi Konteks :
1)      Siswa mampu melihat bakat, kemampuan, dan prestasi diri yang perlu disyukuri dan dikembangkan untuk meningkatkan mutu kehidupannya
2)      Siswa mampu bersikap dan bertingkahlaku, dan mengembangkan diri sesuai dengan dimensi kecerdasan yang dimilikinya sehingga berhasil dalam kehidupannya
3)      Siswa mampu menghayati makna belajar sebagai pelajar untuk mencapai keberhasilan belajar yang mendasari pencapaian masa depan yang diharapkan
4)      Siswa mampu menghayati prinsip dan gaya belajar sebagai pelajar untuk mencapai keberhasilan belajar yang mendasari pencapaian masa depan yang diharapkan
5)      Siswa mampu erpikir dan bersikap positif dalam pergaulan hidup sehari-hari disekolah, keluarga, dan masyarakat pada umumnya.
6)      Siswa mampu hidup bersama oranglain yang mendasarkan diri pada etika pergaulan
7)      Siswa mampu bergaul secara efektif sebagai remaja sehingga mendapatkan manfaat bagi perkembangan dirinya
8)      Siswa mampu memilih bentuk rekreasi yang paling efektif sehingga memperoleh manfaat bagi perkembangan sosialisasi,kesehatan jiwa dan raganya,serta bermanfaat bagi masyarakat disekitarnya
9)      Siswa mampu mengenal,menganalisis,dan terampil mengatasi masalah yang dialami pada rentang tahapan hidupnya dimasa remaja sehingga menjadi remaja yang efektif

3.       Pengambilan Keputusan

Evaluasi input adalah untuk membantu menentukan program yang membawa pada perubahan yang dibutuhkan. Evaluasi input bertujuan untuk mengidentifikasikan dan menelaah kapabilitas system, alternative strategi program,desain prosedur dimana strategi akan diimplementasikan. Evaluasi nput ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode menginventarisasi dan menganalisis sumber-sumber yang tersedia, baik guru bimbingan konseling, ataupun material,strategi solusi,relevansi desain prosedur,kepraktisan dan biaya, kemudian dibandingkan dengan criteria yang ditetapkan berdasarkan telaah literature, atau dengan mengunjungi program yang telah berhasil atau berdasarkan ahli.

Strategi dalam program bimbingan :
a)      Materi yang ditetapkan dalam program bimbingan
b)      Metode yang digunakan dalam program bimbingan
c)       Media yang digunakan dalam program bimbingan

Sumber-sumber dalam program bimbingan :
1)      Sumber berupa personel
2)      Sumber berupa keuangan/financial
3)      Sumber berupa kebijakan

Prosedur pelaksanaan evaluasi :
a)      Menenukan tujuan evaluasi
b)      Menentukan criteria evaluasi
c)       Memilih desain evaluasi
d)      Menyusun table perencanaan evaluasi
e)      Menentukan instrument yang digunakan

Penyusunan laporan evaluasi input program bimbingan :
a)      Deskripsi data evaluasi
b)      Analisis data evaluasi
c)       Keputusan






BAB 6
EVALUASI PROSES PROGRAM BIMBINGAN

Steufflebeam mengatakan bahwa evaluasi proses merupakan pengecekan yang berkelanjutan atas implementasi perencanaan (Stufflebeam & Shinkfield, 1985:175). Pendapat Stufflebeam tersebut menegaskan bahwa evaluasi proses merupakan evaluasi yang dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan program sesuai dengan strategi yang telah direncanakan. Evaluasi proses ber
Tujuan mengidentifikasikan atau memprediksi dalm proses pelaksanaan,seperti cacat dalam desain prosedur atau implementasinya.

Prosedur pelaksanaan evaluasi pada aspek proses :
1)      Menentukan tujuan evaluasi
2)      Menentukan criteria evaluasi
3)      Memilih desain evaluasi
4)      Menyusun tabel perencanaan evaluasi
5)      Menentukan instrument evaluasi
6)      Menentukan teknik analisis data

Menyusun laporan evaluasi program bimbingan pada aspek proses :
1)      Deskripsi data evaluasi
a)      Keterlaksanaan program
b)      Tanggapan siswa terhadap materi program bimbingan
c)       Tanggapan siswa terhadap metode yang digunakan
d)      Tanggapan siswa terhadap media yang digunakan
e)      Waktu pelaksanaan program bimbingan
f)       Pemahaman siswa mengenai materi bimbingan
2)      Analisis data hasil evaluasi
3)      Keputusan






BAB 7
EVALUASI HASIL PROGRAM BIMBINGAN

Evaluasi hasil adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur,menginterprestasikan, dan menilai pencapaian program (Hadi & Mutrofin. 2006:176).
Pusat kurikulum (2004) mengajukan adanya penilaian segera (laiseg), penilaian jangka pendek (laijapen), dan penilaian jangka panjang (laijapan).
Prosedur pelaksanaan evaluasi hasil program bimbingan
1)      Menentukan tujuan evaluasi
2)      Menentukan criteria evaluasi
3)      Memilih desain evaluasi
4)      Menyusun tabel perencanaan evaluasi
5)      Menentukan instrument evaluasi
6)      Menentukan teknik analisis data

Penyusunan laporan evaluasi asil program bimbingan :
a)      Deskripsi data
b)      Analisi data perbedaan pencapaian siswa terhadap kompetensi/tujuan layanan program bimbingan awal semester dan akhir semester
c)       Keputusan










BAB 8
EVALUASI PROGRAM KONSELING

Evaluasi program konseling merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas program konseling yang diselenggarakan disekolah.
Prosedur pelaksanaan evaluasi program konseling
1)      Menentukan tujuan
Tujuan dalam evaluasi program konseling :
·         Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan program konseling,berkenaan dengan pendekatan ang digunakan,teknik,serta fasilitas pendukung
·         Untuk mengetahui sejauh mana capaian tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam konseling
2)      Menetapkan kriteria
Menetapkan kriteria sebagai patokan dalam evaluasi program memang tidak mudah. Schimct menjelaskan empat cara menentukan kriteria dalam ealuasi outcome, yaitu :
·         Mengunakan pencapaian melalui presentase
·         Membandingkan pencapaian siswa yang mengikuti program dan yang tidak mengikuti program
·         Menanyakannya pada siswa,orangtua dan guru
·         Membandingkan dengan skor pre-test dan post-test

Rosecrance,Hinderman dalam Gysbers mengidentifikasikan outcomes siswa dalam program bimbingan dan konselin, yaitu (Gysbers & Henderson: 69) :
v  Lebih sedikit siswa yang drop out
v  Adanya peningkatan dalam standar beasiswa
v  Moral yang lebih baik
v  Kehidupan sekolah yang lebih baik
v  Siswa yang mengulang lebih sedikit
v  Siswa  lebih mendapatkan informasi lebih banyak megenai masa depan
v  Kepuasan lulusan dalam penyesuaian terhadap masyarakat,pekerjaan,serta pendidikan lanjutan di universitas
v  Kasus pelanggaran disiplin lebih sedikit
v  Lebih cerdas dalam menseleksi materi
v  Kebiasaan belajar yang lebih baik
Hadi Suparto mengemukakan kriteria keberhasilan program konseling sebagai berikut (Suparto, 1990:36) :
-        Kegagalan sekolah berkurang
-        Jumlah masalah ketertiban berkurang
-        Penggunaan layanan konseling meningkat
-        Jumlah siswa yang mengganti programnya berkurang
-        Kelayakan tujuan-tujuan vokasional
-        Jumlah putus sekolah berkurang
-        Partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler meningkat
-        Banyaknya penempatan kerja
-        Taraf kepuasan kerja
-        Wawasan dan pengertian diri meningkat
-        Penerimaan diri dan tahu diri meningkat
-        Kepuasan diri meningkat
-        Penerimaan dan penghargaan terhadap oranglain meningkat
-        Asumsi klien terhadap tanggungjaab
-        Perbaikan jejang
-        Kriteria yang eksplisit dalm berbagai tes, seperti TAT,Discomfort-reliefquotient

3)      Memilih desain evaluasi
4)      Menyusun tabel perencanaan evaluasi
5)      Menyusun instrument evaluasi
6)      Menentukan teknik analisis data

Penyusunan laporan evaluasi program konseling
   Penyusunan laporan hasil evaluasi program konseling sedikit berbeda dengan penyusunan laporan evaluasi sebelumnya. Laporan hasil evaluasi program konseling dilakukan tidak secara kelompok, akan tetapi secara individual. Guru BK (evaluator) menyusun laporan berdasarkan kegiatan konseling yang dilakukannya terhadap siswa.
   Pada evaluasi program konseling, data merupakan bagian yang sangat penting dalam rangka pengambilan keputusan atau kesimpulan yang tepat. Keberadaan data siswa ini tentunya memungkinkan guru BK/konselor melakukan dua kegiatan. Pertama, melalui data yang dimiliki, guru BK/konselor dapat mengetahui sejauh mana efektifitas program konseling yang dilakukannya. Efektivitas program konselor tersebut dapat dilihat berdasarkan pencapaian siswa terhadap tujuan-tujuan yang ditetapkan (gals) dalam konseling. Selain itu, keberadaan data juga dapat digunakan konselor untuk memberkan laporan perkembangan siswa yang menjadi kliennya.



Sekian dan Terimakasih

1 komentar:

  1. Lebih baik lagi jika disertakan sumber/Daftar Rujukan Buku yang digunakan

    BalasHapus