RANGKUMAN
Teori dan Aplikasi
Evaluasi program
Bimbingan Konseling
Aip Badrujaman,M.Pd
Oleh:
Stephi nadia
Nim : 11.21.13472
UNIVERSITAS
MUHAMMADYAH PALANGKARAYA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
STUDI S-1 BIMBINGAN KONSELING
TAHUN 2014
BAB 1
PERMASALAHAN SEPUTAR
EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
Pelaksanaan bimbingan dan konseling di
ndonesia telah berjalan selama lebih dari tiga puluh tahun. Meskipun demikian,
masalah-masalah yang terjadi dalam dunia bimbingan dan konseling sekarang,tidak
jauh berbeda dengan masalah yang terjadi pada masa yang lalu. Permasalahan
motivasi belajar siswa, keterlambatan,serta absensi masih banyak dialami siswa.
Pada sisi yang lain,guru BK mengalami kesulitan menyelenggarakan berbagai bimbingan
dan konseling. Seringkali program m bimbingan dan konseling yang
diselenggarakan tidak diperdulikan siswa, bahkan tidak diminati siswa.
Salah satu factor
yang menyebabkan permasalahan di atas terjadi adalah karena ketiadaan evaluasi
yang dilakukan oleh guru BK. Ketiadaan evaluasi membuat terjadinya pengulangan
berbagai program bimbingan dan konseling yang tidak menarik, serta tidak
dibutuhkan oleh siswa.
Prof. buchori (2004)
mengemukakan bahwa tenaga guru BK belum mendaatkan tempat yang layak di
kebanyakan sekolah. Bahkan di beberapa sekolah, guru BK dijauhi siswanya karena
dipandang sebagai “polisi sekolah”. Tidak hanya siswa, guru mata pelajaran juga
seringkali memiliki persepsi yang kurang baik pada guru BK dan program
Bimbingan dan konseling itu sendiri. Bahkan tidak jarang program Bimbingan dan
konseling hanya merupakan komponen lengkap disekolah yang memang harus ada
sebagai persyaratan administrasi.
Kondisi ini membuat
guru BK melaksanakan program bimbingan dan konseling secara incidental, dan
kurang terencana. Akibatnya proses bimbingan menjadi tidak menarik dan tidak menyentuh esensi (kebutuhan) dari
siswa. Bahkan tidak jarang siswa akkhirnya tidak memperdulikan kegiatan
bimbingan yang diselenggarakan oleh guru BK. Kondisi ini akhirnya membuat
tujuan yang telah ditetapkan tidak dapat dicapai melalui kegiatan bimbingan
tersebut. Kondisi ini pada akhirnya berimplikasi pada minimnya siswa yang dapat
mencapai tugas perkembangannya sebagai akibat program bimbingan.
Untuk mengatasi
masalah, guru Bk harus berani untuk melakukan evaluasi terhadap program
bimbingan dan konseling yang diselenggarakan. Evaluasi dilakukan untuk
menemukan kelemahan program serta selanjutnya memperbaiki dan mengembangkannya.
Apabila guru Bk dapat menunjukkan bukti program bimbingan dan konseling itu
dibutuhkan dan harus ada, maka Kepala Sekolah akan mengeluarkan kebijakan yang
berpihak pada guru BK. Bukt yang diberikan bukanlah bukti yang subjektif guru
BK yang dapat saja kemudian dibantah oleh guru lain atau kepala sekolah. Bukti
yang harus ditunjukkan haruslah bukti yang berasal dari sebuah proses evaluasi
yang dapat dipertangungjawabkan.
Purwanto
dalam Lubis 920020 mengungkapkan bahwa dengan evaluasi diperoleh informasi
mengenai proses pembelajaran, meliputi :
1.
Kemajuan dan perkembangan
siswa setelah mengikuti kegiatan belajar-mengajar selama jangka waktu tertentu
2.
Keberhasilan suatu metode
pengajaran oleh guru
3.
Kekuarangan/keburukan dari
hasil evaluasi yang selanjutnya dapat dijadikan pedoman/bahan informasi yang
akurat untuk mengambil keputusan, baik oleh guru,Kepala sekolah,maupun pihak
yang terkait (Lubis,2002:5).
Evaluasi merupakan hal
yang penting, bukan hanya fungsinya sebagai alat untuk membuat perbaikan,akan
tetapi karena evaluasi juga merupakan ukuran akuntabilitas terhadap program,
atau layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa.
Bimbingan konseling
salah satu layanan yang disediakan sekolah untuk melayani siswa merupakan
bagian yang tidak dapat terpisah dari program pendidikan yang diselenggarakan
disekolah.
Tugas pokok guru Bk ialah menyusun
pogram bimbingan, melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksanaan
bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan,dan tindak lanjut dalam program
bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggungjawabnya.
Rendahnya presentase guru Bk yang melakukan
evaluasi terhadap program bimbingan dan konseling yang
diselenggarakannya,tentunya dapat memiliki dampak yang negative bagi program
bimbingan dan konseling itu sendiri. Dampak negative tersebut dapat berupa
ketiadaan informasi sebagai umpan balik yang seharusnya menjadi
petunjukberkenaan dengan kekuatan dan kelemahan program yang diselenggarakan.
Selain itu guru BK tidak dapat mengetahui secara pasti apakah tujuan program
yang telah ditetapkan sudah tercapai. Ketiadaan evaluasi dapat berdampak pula
guru Bk megulangi program BK yang sesungguhnya tidak menjadi kebutuhan
siswa,serta tidak bersentuhan dengan permasalahan yang ada pada siswa.
Permasalahan tersebut tentunya dapat menciptakan kondisi dimana program
bimbingan dan konseling diselenggarakan akan tetapi permasalahan siswa tetap
tinggi.
BAB 2
KONSEP DASAR EVALUASI
Dalam
literature kajian bimbingan dan konseling,didapati bahwa penggunaan istilah
penilaian dan evaluasi masih digunakan. Keduanya dipergunakan untuk menilai
efektivitas program bimbingan dan konseling sehingga bisa dijadikan bahan dasar
dalam memperbaiki program.
Mehrens dan
Lehman menyatakan penilaian sebagai suatu tindakan untuk menentukan nilai
sesuatu. Sementara itu, Raka joni
mengemukakan definisi mengenai penilaian sebagai proses dimana kita
mempertimbangkan sesuatu barang atau gejala dengan patokan-patokan tertentu.
Definisi ini menjelaskan bahwa penilaian adalah proses mempertimbangkan yang
berarti terdapat kegiatan membandingkan antara sesuatu dengan patokan tertentu.
Definisi yang dikemukakan oleh Raka Joni sejalan dengan definisi penilaian yang
disampaikan oleh Nana Sudjana yang mengemukakan penilaian sebagai proses
memberikan atau menentukan nilai kepada suatu objek tertentu berdasarkan kriteria
tertentu. Definisi yang disampaikan Nana Sudjana memiliki isi yang sama akan
tetapi Nana sudjana menggunakan istilah yang berbeda. Nana sudjana menggunakan
stilah criteria sebagai padanan kata patokan yang disampaikan oleh Raka Joni.
Berdasarkan
definisi yang dikemukakan oleh ketiga ahli di atas, maka beberapa hal penting
dapat disimpulkan dari istilah penilaian :
1.
Penilaian adalah suatu
proses pemberian nilai. Hal ini berarti bahwa dalam penilaian terdapat proses
judgement, pada konteks inilah sesuangguhnya penilaian berbeda dengan
pengukuran yang hanya menggambarkan sebuah fakta.
2.
Proses pemberian nilai
didasarkan pada kritera tertentu.
Sementara itu,
istilah evaluasi juga banyak digunakan untuk merujuk kepada objek yang sama.
Groundlund
(1995) mengemukakan evaluasi sebagai proses sistematis untuk menentukan atau
membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai
siswa.
Sumadi
Suryabrata berpendapat bahwa istilah evaluasi menekankan pada pada penggunaan
informasi yang diperoleh dengan pengukuran maupun dengan cara lain untuk
menentukan pendapat dan membuat keputusan-keputusan pendidikan.
Berdasarkan
definisi yang dikemukakan oleh ahli, maka jelaslah evaluasi memiliki beberapa
karakteristik yang khas.
1.
Evaluasi adalah proses
dimana didalamnya terdapat prses pengumpulan informasi. Informasi ini dapat
berupa informasi yang bersifat kuantitatif dan bersifat kualitatif yang didapat
melalui proses pengukuran.
2.
Dalam evaluasi terdapat
proses analisis dan interpetasi informasi, artinya didalam evaluasi terdapat
proses membandingkan fakta dengan patokan tertentu.
3.
Inilah karakteristik yang
membedakannya dengan penilaian adalah bahwa evaluasi merupakan proses yang
menjadi dasar penentuan suatu pengambilan keputusan.
Evaluasi program
bimbingan dan konseling merupakan bidang kajian yang didalamnya terdapat dua
bidang ilmu. Ilmu mengenai evaluasi dan juga ilmu megenai bimbingan dan
konseling.
Evaluasi merupakan
studi yang dapat dikatakan muda, karena datang lebih akhir daripada psikologi,
ataupun bimbingan konseling, akan tetapi perkembangannya sangat pesat sekitar
tahun tujuh puluhan.
Stufflebeam
mencatat pada tahun 1970-an telah ada sekitar lima puluh model evaluasi
(Stuflebeam & Shinkfield, 1985:49). Khusus dalam bidang bimbingan dan
konseling, model-model evaluasi yang sering digunakan untuk mengevaluasi
program bimbingan dan konseling adalah model planning,programming,budgeting
system (PPBS) yang memberikan tekanannya pada menetapkan tuuan yang
khusus,objektif, dan criteria dalam evaluasi. Criteria yang digunakan dalam
model ini adalah referensi criteria bukan referensi norma. Kemudian ada pula
model CIPP yang memfokuskan pada kekuatan dan kelemahan desain program.
Evaluasi program bimbingan
dan konseling sebagai proses pemberian penilaian terhadap kebehargaan dan
keberhasilan program bimbingan dan
konseling dengan melalui pengumpulan data,pengolahan data, serta analisis data
yang akan dijadikan dasar untuk membuat keputusan.
Tujuan evaluasi
program bimbingan dan konseling :
1.
Evaluasi program bimbingan
dan konseling bertujuan untuk memperbaiki praktik penyelenggaraan program
bimbingan dan konseling
2.
Evaluasi merupakan alat
untuk meningkatkan akuntabilitas program bimbingan dan konseling dimata
stakeholder,seperti guru, kepala sekolah, orangtua, terutama siswa.
Prinsip dasar
evaluasi Program bimbingan dan konseling :
1.
Evaluasi yang efektif
membutuhkan pengenalan atas tuuan-tujuan program
2.
Evaluasi yang efektif
membutuhkan criteria pengukura yang valid
3.
Evaluasi yang efektif
tergantung pada pelaksanaan pengukuran yang valid terhadap criteria
4.
Program evaluasi harus
melibatkan semua yang berpengaruh
5.
Evaluasi yang bermakna
membutuhkan umpan balik
6.
Evaluasi arus direncanakan,
dan terus menerus sebagai sebuah proses
7.
Evaluasi menekankan pada
kepositifan
Kriteria evaluasi program Bimbingan
Konseling :
1.
Menunakan pencapaian
melalui presentase
2.
Membandingkan pencapaian
siswa yang mengikuti program dan tidak mengikuti program
3.
Menanyakannya dengan
siswa,orangtua, atau guru
4.
Dengan membandingkan skor
pre-test dan post-test
Factor yang mempengaruhi evaluasi program bimbingan konseling
adalah tafsiran tentang konseling sebagai kegiatan professional engalaman, dan
mutu kerjanya, serta bantuan dan kerjasama diantara semua anggota staf
sekolah,terutama guru.
Winkel dan Hastuti (2006:580) mengemukakan bahwa factor yang
mempengaruhi hasil guna bimbingan adalah kedudukan layanan bimbingan dan
fasilitas yang ada, serta sikap anggota staf sekolah terhadap layanan
bimbingan.
Myrick(2003) mengemukakan ada 5 alasan mengapa guru BK tidak
melakukan evaluasi program bimbingan dan konseling, meliputi :
1.
Guru BK tidak memiliki
waktu
2.
Guru Bk tidak memiliki
pengetahuan dan keterampilan
3.
Adanya ketakutan guru BK
terhadap akuntabilitas
4.
Perasaan nyaman guru BK
dengan apa yang ada
5.
Persepsi guru Bk bahwa
hasil sulit diukur.
BAB 3
OBJEK EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN
KONSELING
Sejarah perkembangan program Bk di Indonesia pada tahun
1980-an. Perkembangan itu ditandai dengan dibukanya program studi atau jurusan bimbingan
konseling di Lembaga Tenaga Kependidikan di Indonesia.
Pada era sekarang ini, bimbingan konseling di Indonesia
mengacu pada paradigma baru, sebagaimana paradigm pendidikan secara
keseluruhan, yaitu mengacu atau berbasis kompetensi.
Bentuk bimbingan menunjuk pada Jumlah orang yang
diberi layanan bimbingan. Bilamana siswa yang dilayani hanya satu orang, maka
digunakan istilah bimbingan individual atau imbingan perseorangan. Bilamana
siswa yang dilayani lebih dari satu orang, maka digunakan istilah bimbingan
kelompok, baik kelompok kecil, agak besar, dan besar.
Sifat
bimbingan menunjuk pada suatu tujuan yang ingin dicapai dalam pelayanan
bimbingan, apakah itu mendampingi siswa dalam perkembangan yang sedang berjalan
agar berlangsung seoptimal mungkin, atau apakah membantu siswa memperbaiki
proses perkembangan yang telah mengalami salah jalur agar kemudian berlangsung
lebih baik, atau apakah bimbingan bertujuan membantu siswa dalam membekali agar
lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
Ragam
bimbingan menunjuk pada bidang kehidupan tertentu atau aspek perkembangan
tertentu yang menjadi focus perhatian dalam pelayanan bimbingan.
Ragam bimbingan
dapat dibedaka menjadi 3 bagian :
1.
Bimbingan akademik
2.
Bimbingan karier
3.
Bimbingan pribadi-sosial
Program bimbinga adalah layanan bimbi ngan yang diberikan
dalam kelompok. Gazda dalam prayitno (2004) mengemukakan bawa bimbingan
kelompok disekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk
membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat
(Prayitno,2004:195). Gazda juga
menyebutkan bahwa bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberikan informasi
yang bersifat personal,vokasional,dan sosial.
Brewer dalam Winkel & Hastuti (2006)
berpandangan bahwa tugas pokok semua tenaga pendidik adalah mempersiapkan siswa
untuk mengatur berbagai bidang kehidupan sedemikian rupa sehingga bermakna dan
memberikan kepuasan,seperti idang kesehatan, bidang kehidupan keluarga,bidang
pekerjaan,bidang rekreasi,bidang pendalaman pengetahuan,dan bidang kehidupan
bermasyarakat.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat
diambil beberapa pokok pikiran mengenai bimbingan kelompok, meliputi :
v
Bimbingan kelompok
merupakan kegiatan kelompok yang diberikan untuk siswa
v
Kegiatan bimbingan kelompok
meliputi bidang akademik,pribadi-sosial,serta karier
v
Tujuan bimbingan kelompok adalah
untuk membantu siswa menyusun rencana dan keputusan yang tepat baik dalam hal
akademik,pribadi-sosial,serta karier
v
Bimbingan kelompok
merupakan tugas pokok guru BK yang ada di sekolah.
Tugas utama dalam pengembangan kurikulum bimbingan adalah
untuk mengorganisasikan dan memetakan kompetensi siswa dimana mereka mengikuti
wilayah dan urutan secara teoritik.
Ada 3 tingkat perkembangan :
1.
Perceptualization
2.
Conceptualization
3.
Generalization
Konseling merupakan program yang sangat penting dalam program
bimbingan dan konseling. Program konseling merupakan program yang berusaha
merespons secara aktif berbagai permasalahan disekolah.
Tujuan dari program ini adalah untuk bekerja
dengan siswa yang sedang memiliki permasalahan atau berpotensi memiliki
permasalahan atau berpotensi memiliki permasalahan yang dapat mengganggu
kesehatan pribadi-sosialnya,akademiknya,serta kariernya,dan perkembangan
pendidikannya. Isu yang spesipik yang mungkin dihadapi siswa adalah pilihan
pendidikan,karier,kehilangan anggota keluarga,hubungan,kehadiran,putus sekolah,
stress,pelecehan,bunuh diri,dan lain sebagainya.
Definisi konseling berdasarkan The New
Grollier Webster International Dictionary (1971), kata Konseling merupakan ahli
bahsa dari bahasa inggris Counseling yang berarti memberi
saran,informasi,opini,dialog,atau pertimbangan yang diberikan oleh seseorang
kepada oranglain dalam rangka membuat keputusan atau tindakan yang akan datang.
Menurut Shertzer dan Stone (Syuhada,1988),
Konseling adalah proses interaksi yang memberikan fasilitas atau
kemudahan-kemudahan untuk pemahaman yang bermakna terhadap diri dan
lingkungan,serta menghasilkan kemantapan dan atau kejernihan tujuan-tujuan dan
nilai-nilai untuk perilaku dimasa datang.
Cirri-ciri konseling :
1.
Konseling merupakan suatu
proses yang terjadi oleh adanya hubungan antara konselor dengan klien yang
dengan sengaja akan mencapai suatu tujuan yang bermakna bagi klien.
2.
Konseling merupakan suatu
bantuan agar klien lebih mampu memahami diri serta lingkungannya guna
merencanakan masa depannya yang lebih baik.
3.
Dalam proses konseling,
konselor memberikan fasilitas yang bernilai psikologis bagi klien yang digali
dari teori-teori,metode dan teknik psikologi kepribadian dan ilmu-ilmu sosial
lainnya untuk memungkinkan klien melakukan perubahan perilaku dari yang kurang
positif kepada yang lebih positif. Hasil yang ingin di capai oleh konselor dank
lien ialah perwujudan atau kejelasan nilai-nilai dan tujuan-tujuan perilaku
klien dimasa datang,yaitu perilaku yang dapat membahagiakan/menyejahterakan
diri serta masyarakatnya (Syuhada,1988)
Fungsi Layanan Konseling adalah seagai fasilitator,sarana
yang memberikan kemudahan-kemudahan baik terhadap terbimbing maupun sekolah
atau perguruan tinggi/lembaga/masyarakat. Secara khusus konseling memiliki
fungsi Penyembuhan (curative),bagi ora ng yang menderita gangguan karena tidak
mampu memecahkan masalah-masalah baik maslah klinis maupun
nonklinis,psikoterapi,atau layanan rujukan yang tepat (kepada ahli yang sesuai
dengan kebutuhan penderita) (Syuhada,1988:9-11).
Tujuan konseling :
1.
Menyediakan fasilitas untuk
perubahan tingkah laku
2.
Meningkatkan keterampilan
untuk menghadapii sesuatu
3.
Meningkatkan kemampuan
dalam mengambil keputusan
4.
Meningkatkan hubungan antar
perorangan(interpersonal)
5.
Tujuan akhir yang ingin
dicapai adalah pribadi yang mandiri
6.
Mengenal dan menerima diri
dan lingkungan
7.
Mengambil keputusan sendiri
tentang berbagai hal
8.
Bertanggungjawab atas apa
yang telah dilakukannya
9.
Mengarahkan diri sendiri
10.
Mengaktualisasikan diri
Langkah-langkah pelaksanaan Konseling secara umum
a.
Pendahuluan
1)
Menegakkan Rapport yang
bertujuan membuat klien aman dan nyaman
2)
Melengkapi data yang
bertujuan merumuskan masalah
3)
Mengumpulkan data yang
bertujuan untuk mencari alternative pemecahan
b.
Bagian inti
1)
Mencari alternative
pemecahan
2)
Memilih alternative
pemecahan
3)
Merencanakan pemecahan
4)
Melaksanakan pemecahan
c.
Penutup
1)
Menyimpulkan
2)
Membuat perjanjian
berikutnya
BAB
4
MODEL-MODEL EVALUASI YANG DAPAT DIGUNAKAN DALAM EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN
DAN KONSELING
Tyler adalah
seorang bapak evaluasi,karena pada tahun 1950 telah memberikan sumbangannya
dalam memberikan definisi pada evaluasi.
Tyler menganggap evaluasi merupakan proses membandingkan antara tujuan yang
ditetapkan dengan tujuan yang dapat dicapai.
Langkah-langkah
evaluasi :
1.
Menentukan tujuan seluas-luasnya
atau sasaran-sasaran
2.
Mengklasifikasikan
tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran
3.
Menegaskan sasaran dalam
benuk perilaku
4.
Menemukan situasi-situasi
dalam pencapaina tujuan yang dapat dilihat
5.
Mengembangkan atau memilih
teknik pengukuran
6.
Mengumpulkan hasil data
7.
Membandingkan hasil data
dengan perilaku berdasarkan tujuan
Kekurangan
dari evaluasi,meliputi :
1.
Mengabaikan aspek
perencanaan dan proses pada proses pembelajaran
2.
Banyak kekurangan standar
penilaian yang penting un tuk di observasit
3.
Ketidak sesuaian atara
tingkat tujuan dan pelaksanaannya
4.
Pengabaian nilai tujuan
pendekatan evaluasi itu sendiri
5.
Mengabaikan
alternative-alternatif penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan
program
6.
Melalaikan konteks yang
memiliki wewenang evaluasi
7.
Mengabaikan hasil penting
lainnya yang ditutupi oleh tujuan (hasil yang sengaja didapatkan dari kegiatan)
8.
Mengabaikan fakta-fakta
dari nilai program yang tidak dapat digambarkan dengan tujuan itu sendiri.
Evaluasi formatif didefinisi oleh Scriven (1991) sebagai
suatu evaluasi yang biasanya dilakukan ketika suatu produk atau program
tertentu sedang dikembangkan dan biasanya dilakukan lebih dari sekali dengan
tujuan untuk melakukan perbaikan.
Teknk evaluasi Formatif menurut martin Tessmer (1996) dapat
dilakukan sebagai berikut :
1.
Review ahli yaitu evaluasi
dimana ahli mengkaji ulang program layanan atau tanpa kehadiran evaluator. Ahli
ini bisa ahli materi, ahli teknis, perancang, atau instruktur.
2.
Evaluasi orang per orang,
yatu wawancara yang dilakukan secara perorangan oleh evaluator terhadap
beberapa siswa dimana secara satu persatu siswa diminta untuk memberikan
komentarnya.
3.
Evaluasi kelompok keci,
yaitu evaluasi dimana evaluator meguji coba suatu program layanan pada suatu
kelompok siswa dan mencatat performance dan komentar-komentarnya.
4.
Uji lapangan, yaitu
evaluasi diman aevaluatornya megobservasi program layanan yang diuji cobakan
kepada sekelompok siswa tertentu dalam suatu situasi nyata.
Evaluasi sumatif merupakan evaluasi yang menilai hasil
program atau akibatnya. Evaluasi sumatif adalah model pelaksanaan evaluasi yang
dilakukan setelah berakhirnya kegiatan belajar-mengajar. Pola evaluasi ini
dilakukan kalau guru bermaksud untuk mengetahui tahap perkembangan terakhir
tingkat pengetahuan atau penguasaan materi yang telah dicapai oleh siswa.
Keuntungan Evaluasi sumatif :
1.
Mereka isa, ika dirancang
dengan tepat, menyediakan bukti ntuk sebuah hubungan sebab-akibat
2.
Menilai efek jangka pajang
3.
Menyediakan data mengenai
dampak program.
Evaluasi Responsif adalah sebuah pendekatan evaluasi pendidikan dan program lainnya. Dibandingkan
dengan pendekatan lainnya,evaluasi responsive lebih berorientasi pada
aktivitas,keunikan dan keragaman sosial dari program. Keistimewaan utama dari
pendekatan ini adalah kemampuan reaksi terhadap isu kunci atau masalah yang
dikenal masyarakat dilapangan. Tujuan evaluasi dirancang secara perlahan dan
terus berkembang selama proses pengumpulan data berlangsung
Evaluasi responsive ditandai oleh cirri-ciri
penelitian kualitatif naturalistic. Data lebih banyak dikumpulkan menggunakan
teknik wawancara dan observasi daripada tes dan angket. Bentuk laporan ialah
studi kasus atau gambaran yang deskriptif. Focus utama evaluasi respontif
adalah menunjukkan perhatian dan isu peserta.
Terdapat
empat komponen dalam Evaluasi CIPP :
1.
Evaluasi Konteks
2.
Evaluasi input
3.
Evaluasi proses
4.
Evaluasi produk
BAB 5
EVALUASI PERENCANAAN PROGRAM
BIMBINGAN
Evaluasi perencanaan program bimbingan merupakan evaluasi
yang dilakukan untuk mengetahui apakah perencanaan yang dibuat sudah baik atau
belum. Perencanaan program bimbingan dan konseling terdapat dalam kurikulum
bimbingan (guru BK sering menyebutnya silabus BK).
Orientasi utama dari evaluasi tujuan program
bimbingan adalah untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan peserta didik, dan
juga untuk menyediakan arahan untuk perbaikan. Stufflebeam mengemukakan bahwa
objektivitas utama dari tipe ini adalah untuk menelaah status objek secara
keseluruhan, untuk mengidentifikasikan kekurangan, untuk mengidentifikasikan
kekuatan yang dimiliki yang dapat digunakan untuk memperbaiki kekurangan,untuk
mendiagnosis masalah sehingga dapat ditemukan solusi yang dapat memperbaikinya,
dan secara umum untuk memberikan gambaran karakteristik lingkungan/setting
program (Stufflebeam & Sinkfield, 1985:169).
Evaluasi program bimbingan pada aspek tujuan
ini tidak dilakukan pada setiap semester. Hal ini disebakan karena kompetensi
siswa tentunya tidak berubah setiap semester atau bahkan setiap tahun. Hal ini sesuai
dengan pendapat Gysbers (2006) yang menyatakan bahwa evaluasi pada kurikulum
bimbingan dapat dilakukan tiga atau lima tahun sekali.
Prosedur pelaksanaan Evaluasi Tujuan :
a)
Menentukan Tujuan Evaluasi
b)
Menentukan Kriteria
Evaluasi
c)
Memilih desain evaluasi
d)
Menyusun Tabel perencanaan
Evaluasi
e)
Menentukan instrument
evaluasi
f)
Menentukan Teknik analisis
data
Kegiatan akhir dalam kegiatan evaluasi yang dilakukan adalah
membuat laporan asil evaluasi. Setiap laporan evaluasi perencanaan hendaknya
dimulai dengan deskripsi data. Setelah data dipaparkan, maka selanjutnya adalah
menulis hasil analisi data evaluasi.
Bagian
evaluasi tujuan :
1.
Deskripsi data
a)
Tugas perkembangan siswa
Berdasarkan
pencapaian siswa dalam tugas perkembangan,seharusnya program bimbingan lebih
diarahkan pada tugas perkembangan :
1)
Mempersiapkan karier
ekonomi
2)
Mempersiapkan tingkah laku
sosial yang bertanggungjawab
3)
Mencapai system nilai dan
etika ebagai pedoman tingkah lakunya
4)
Serta mempersiapkan
pernikahan dan kehidupan berkeluarga
b)
Permasalahan siswa
c)
Tujuan program Bimbingan
sekolah antah Berantah
Tujuan
Program Bimbingan semester ganjil
1)
Siswa mampu menghayati
makna belajar sebagai pelajar untuk mencapai keberhasilan belajar yang
mendasari pencapaian masa depan yang diharapkan
2)
Siswa mampu menhayati
prinsip dan gaya belajar sebagai pelajar untuk mencapai keberhasilan belajar
yang mendasari pencapaian masa depan yang diharapkan
3)
Siswa mampu menghargai dan
memanfaatkan waktu dengan benar (efektif dan produktif)
4)
Siswa mampu elihat
bakat,kemampuan, dan prestasi diri yang perlu disyukuri dan dikembangkan untuk
meningkatkan mutu kehidupannya.
5)
Siswa mampu hidup bersama
oranglain yang mendasarkan diri pada etika pergaulan
6)
Siswa mampu bergaul secara
efektif sebagai remaja sehingga mendapatkan manfaat bagi perkembangan siswa
7)
Siswa mampu melaksanakan
kepemimpinan remaja ya ng efektif dan efisien sesuai karakter seorang pemimpin
handal.
Tujuan Program
bimbingan Semester Genap
1)
Siswa mampu bersikap dan
bertingkahlaku, dan mengembangkan diri sesuai dengan dimensi kecerdasan yang
dimilikinya sehingga berhasil dalam kehidupannya
2)
Siswa mampu
mengenal,menganilisis, dan terampil mengatasi masalah yang dialami pada rentang
tahapan hidupnyadimasa remaja sehingga menjadi remaja yang efektif
3)
Siswa mampu berpikir dan
bersikap positif dalam pergaulan hidup sehari-hari disekolah,keluarga,dan
masyarakat pada umumnya
4)
Siswa mampu memilih bentuk
rekreasi yang paling efektif sehingga memperoleh manfaat bagi perkembangan
sosialisasi,kesehatan jiwa dan raganya,serta bermanfaat bagi masyarakat
disekitarnya.
5)
Siswa menyadari perlunya sikap
anti korupsi dalam bentuk apapun dan menjalankan sikap itu dalam kehidupan
sehai-hari siswa mampu mengupayakan diri menjadi remaja yang mandiri
2.
Analisis Hasil Evaluasi
Tujuan program bimbingan harus mengarah ada beberapa hal
berikut :
1)
Persiapan karier ekonomi
2)
Mempersiapkan tingkahlaku
sosial siswa yang bertanggungjawab
3)
Mencapai system nilai dan
etika sebagai pedoman tingkah lakunya
4)
Mempersiapkan pernikahan
dan kehidupan berkeluarga
5)
Membantu siswa mengatasi
kesulitan belajar
6)
Membantu mengarahkan
pengentasan maslah gangguan makan
7)
Membantu mengarahkan
kehidupan yang sehat
8)
Membantu mengarahkan siswa
untuk mengatasi keinginan bunuh diri
9)
Membantu siswa
menghindarkan dan menghilangkan mengkonsumsi minuman keras
10)
Membantu siswa menhindarkan
dan menghilangkan perilaku merokok
11)
Membantu siswa
menghindarkan dan menghilangkan pergaulan bebas
12)
Membantu siswa
menghindarkan dan menghilangkan penyalahgunaa obat terlarang dan narkotika
13)
Membantu siswa
menghindarkan dan menghilangkan melakukan hubungan seksual
Ada Sembilan tujuan yang dihasilkan melalui Evaluasi Konteks
:
1)
Siswa mampu melihat bakat,
kemampuan, dan prestasi diri yang perlu disyukuri dan dikembangkan untuk
meningkatkan mutu kehidupannya
2)
Siswa mampu bersikap dan
bertingkahlaku, dan mengembangkan diri sesuai dengan dimensi kecerdasan yang
dimilikinya sehingga berhasil dalam kehidupannya
3)
Siswa mampu menghayati
makna belajar sebagai pelajar untuk mencapai keberhasilan belajar yang
mendasari pencapaian masa depan yang diharapkan
4)
Siswa mampu menghayati
prinsip dan gaya belajar sebagai pelajar untuk mencapai keberhasilan belajar
yang mendasari pencapaian masa depan yang diharapkan
5)
Siswa mampu erpikir dan
bersikap positif dalam pergaulan hidup sehari-hari disekolah, keluarga, dan
masyarakat pada umumnya.
6)
Siswa mampu hidup bersama
oranglain yang mendasarkan diri pada etika pergaulan
7)
Siswa mampu bergaul secara
efektif sebagai remaja sehingga mendapatkan manfaat bagi perkembangan dirinya
8)
Siswa mampu memilih bentuk
rekreasi yang paling efektif sehingga memperoleh manfaat bagi perkembangan
sosialisasi,kesehatan jiwa dan raganya,serta bermanfaat bagi masyarakat
disekitarnya
9)
Siswa mampu
mengenal,menganalisis,dan terampil mengatasi masalah yang dialami pada rentang
tahapan hidupnya dimasa remaja sehingga menjadi remaja yang efektif
3.
Pengambilan Keputusan
Evaluasi input adalah untuk membantu menentukan program yang
membawa pada perubahan yang dibutuhkan. Evaluasi input bertujuan untuk mengidentifikasikan
dan menelaah kapabilitas system, alternative strategi program,desain prosedur
dimana strategi akan diimplementasikan. Evaluasi nput ini dapat dilakukan
dengan menggunakan metode menginventarisasi dan menganalisis sumber-sumber yang
tersedia, baik guru bimbingan konseling, ataupun material,strategi
solusi,relevansi desain prosedur,kepraktisan dan biaya, kemudian dibandingkan
dengan criteria yang ditetapkan berdasarkan telaah literature, atau dengan
mengunjungi program yang telah berhasil atau berdasarkan ahli.
Strategi
dalam program bimbingan :
a)
Materi yang ditetapkan
dalam program bimbingan
b)
Metode yang digunakan dalam
program bimbingan
c)
Media yang digunakan dalam
program bimbingan
Sumber-sumber
dalam program bimbingan :
1)
Sumber berupa personel
2)
Sumber berupa
keuangan/financial
3)
Sumber berupa kebijakan
Prosedur
pelaksanaan evaluasi :
a)
Menenukan tujuan evaluasi
b)
Menentukan criteria
evaluasi
c)
Memilih desain evaluasi
d)
Menyusun table perencanaan
evaluasi
e)
Menentukan instrument yang
digunakan
Penyusunan laporan evaluasi input
program bimbingan :
a)
Deskripsi data evaluasi
b)
Analisis data evaluasi
c)
Keputusan
BAB 6
EVALUASI PROSES PROGRAM BIMBINGAN
Steufflebeam
mengatakan bahwa evaluasi proses merupakan pengecekan yang berkelanjutan atas implementasi
perencanaan (Stufflebeam & Shinkfield, 1985:175). Pendapat Stufflebeam
tersebut menegaskan bahwa evaluasi proses merupakan evaluasi yang dilakukan
untuk melihat apakah pelaksanaan program sesuai dengan strategi yang telah
direncanakan. Evaluasi proses ber
Tujuan
mengidentifikasikan atau memprediksi dalm proses pelaksanaan,seperti cacat
dalam desain prosedur atau implementasinya.
Prosedur
pelaksanaan evaluasi pada aspek proses :
1)
Menentukan tujuan evaluasi
2)
Menentukan criteria
evaluasi
3)
Memilih desain evaluasi
4)
Menyusun tabel perencanaan
evaluasi
5)
Menentukan instrument
evaluasi
6)
Menentukan teknik analisis
data
Menyusun laporan evaluasi program bimbingan pada aspek proses
:
1)
Deskripsi data evaluasi
a)
Keterlaksanaan program
b)
Tanggapan siswa terhadap materi
program bimbingan
c)
Tanggapan siswa terhadap
metode yang digunakan
d)
Tanggapan siswa terhadap
media yang digunakan
e)
Waktu pelaksanaan program
bimbingan
f)
Pemahaman siswa mengenai
materi bimbingan
2)
Analisis data hasil
evaluasi
3)
Keputusan
BAB 7
EVALUASI HASIL PROGRAM BIMBINGAN
Evaluasi hasil
adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur,menginterprestasikan, dan menilai
pencapaian program (Hadi & Mutrofin. 2006:176).
Pusat kurikulum
(2004) mengajukan adanya penilaian segera (laiseg), penilaian jangka pendek
(laijapen), dan penilaian jangka panjang (laijapan).
Prosedur
pelaksanaan evaluasi hasil program bimbingan
1)
Menentukan tujuan evaluasi
2)
Menentukan criteria
evaluasi
3)
Memilih desain evaluasi
4)
Menyusun tabel perencanaan
evaluasi
5)
Menentukan instrument evaluasi
6)
Menentukan teknik analisis
data
Penyusunan laporan
evaluasi asil program bimbingan :
a)
Deskripsi data
b)
Analisi data perbedaan
pencapaian siswa terhadap kompetensi/tujuan layanan program bimbingan awal
semester dan akhir semester
c)
Keputusan
BAB 8
EVALUASI PROGRAM KONSELING
Evaluasi program
konseling merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui efektifitas
program konseling yang diselenggarakan disekolah.
Prosedur
pelaksanaan evaluasi program konseling
1)
Menentukan tujuan
Tujuan
dalam evaluasi program konseling :
·
Untuk mengetahui
efektifitas pelaksanaan program konseling,berkenaan dengan pendekatan ang
digunakan,teknik,serta fasilitas pendukung
·
Untuk mengetahui sejauh
mana capaian tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam konseling
2)
Menetapkan kriteria
Menetapkan
kriteria sebagai patokan dalam evaluasi program memang tidak mudah. Schimct
menjelaskan empat cara menentukan kriteria dalam ealuasi outcome, yaitu :
·
Mengunakan pencapaian
melalui presentase
·
Membandingkan pencapaian
siswa yang mengikuti program dan yang tidak mengikuti program
·
Menanyakannya pada
siswa,orangtua dan guru
·
Membandingkan dengan skor
pre-test dan post-test
Rosecrance,Hinderman
dalam Gysbers mengidentifikasikan outcomes siswa dalam program bimbingan dan
konselin, yaitu (Gysbers & Henderson: 69) :
v
Lebih sedikit siswa yang
drop out
v
Adanya peningkatan dalam
standar beasiswa
v
Moral yang lebih baik
v
Kehidupan sekolah yang
lebih baik
v
Siswa yang mengulang lebih
sedikit
v
Siswa lebih mendapatkan informasi lebih banyak
megenai masa depan
v
Kepuasan lulusan dalam
penyesuaian terhadap masyarakat,pekerjaan,serta pendidikan lanjutan di
universitas
v
Kasus pelanggaran disiplin
lebih sedikit
v
Lebih cerdas dalam
menseleksi materi
v
Kebiasaan belajar yang
lebih baik
Hadi Suparto
mengemukakan kriteria keberhasilan program konseling sebagai berikut (Suparto,
1990:36) :
-
Kegagalan sekolah berkurang
-
Jumlah masalah ketertiban
berkurang
-
Penggunaan layanan
konseling meningkat
-
Jumlah siswa yang mengganti
programnya berkurang
-
Kelayakan tujuan-tujuan vokasional
-
Jumlah putus sekolah
berkurang
-
Partisipasi dalam kegiatan
ekstrakurikuler meningkat
-
Banyaknya penempatan kerja
-
Taraf kepuasan kerja
-
Wawasan dan pengertian diri
meningkat
-
Penerimaan diri dan tahu
diri meningkat
-
Kepuasan diri meningkat
-
Penerimaan dan penghargaan
terhadap oranglain meningkat
-
Asumsi klien terhadap
tanggungjaab
-
Perbaikan jejang
-
Kriteria yang eksplisit
dalm berbagai tes, seperti TAT,Discomfort-reliefquotient
3)
Memilih desain evaluasi
4)
Menyusun tabel perencanaan
evaluasi
5)
Menyusun instrument evaluasi
6)
Menentukan teknik analisis
data
Penyusunan laporan evaluasi program
konseling
Penyusunan
laporan hasil evaluasi program konseling sedikit berbeda dengan penyusunan
laporan evaluasi sebelumnya. Laporan hasil evaluasi program konseling dilakukan
tidak secara kelompok, akan tetapi secara individual. Guru BK (evaluator)
menyusun laporan berdasarkan kegiatan konseling yang dilakukannya terhadap
siswa.
Pada
evaluasi program konseling, data merupakan bagian yang sangat penting dalam
rangka pengambilan keputusan atau kesimpulan yang tepat. Keberadaan data siswa
ini tentunya memungkinkan guru BK/konselor melakukan dua kegiatan. Pertama,
melalui data yang dimiliki, guru BK/konselor dapat mengetahui sejauh mana
efektifitas program konseling yang dilakukannya. Efektivitas program konselor
tersebut dapat dilihat berdasarkan pencapaian siswa terhadap tujuan-tujuan yang
ditetapkan (gals) dalam konseling. Selain itu, keberadaan data juga dapat
digunakan konselor untuk memberkan laporan perkembangan siswa yang menjadi
kliennya.
Sekian dan
Terimakasih
Lebih baik lagi jika disertakan sumber/Daftar Rujukan Buku yang digunakan
BalasHapus